Kamis, 31 Maret 2011

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN ASKEP NEFROTIK SYNDROM

NEFROTIK SYNDROM

       I.         Pengertian
Nefrotiksyndrom adalah salah satukeadaan yang  didasari oleh kerusakan glomelurus yang terjadi akibat satu peradangan yang berlangsung secarakronis yang menyebabkan peningkatan permeabelitas dan porositas membranglomelurus yang mengakibatkant erbuangnya sejumlah protein dalamurin. ( Fatima S.)
Nefrotiksyndrom adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan permeabelitas glomelurus terhadap protein plasma yang menimbulkan protein uria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, danedema. ( Betz&Sowden. 2000 )
NefrotikSyndrom bukan penyakit spesifik, tetap imerupakan beberapa gejala klinis sepert iedema, proteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan penurunanimun.( Ball, Bindler. 1999 )
       I.          Etiologi
1.      Kongenital
2.      Primer, sepertipadaglomerulonefritis, karenaefeklangsungdariginjal.
3.      Sekunder, sepertipada DM, anemia, lupus kornea, multi sistem.
Secara umum penyebab nefrotik sindrom dapat digolongkan menjadi primer dan sekunder :
1.      Prime, yaitu penyakit kongenital atau sindrom nefrotik finlandia, diturunkan. Sindrom nefrotik perubahan minimal tipe paling umum.
2.      Sekunder, yaitu penyakit paska infeksi ( glomerulonefritis, infeksi, bakteri sistemik, hepatitis B, HIV, endokarditis bacterial sub akut ). Penyakit vaskuler ( Sindrom uremik, hemolitik, trombosis vena renalis, lupus eritematosis sistemik, purpura henoch, schoenlein ). Penyakit keluarga ( sindrom alport, DM ). Obat dan logam berat, nefrotis alergik.

    II.        Anatomi Fisiologi

Ginjal adalah organ yang mempunyai pembuluh darah yang sangat banyak (sangat vaskuler) tugasnya memang pada dasarnya adalah “menyaring/membersihkan” darah. Aliran darah ke ginjal adalah 1,2 liter/menit atau 1.700 liter/hari, darah tersebut disaring menjadi cairan filtrat sebanyak 120 ml/menit (170 liter/hari) ke Tubulus. Cairan filtrat ini diproses dalam Tubulus sehingga akhirnya keluar dari ke-2 ginjal menjadi urin sebanyak 1-2 liter/hari.
Fungsi Ginjal
Fungsi ginjal adalah
a)      memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
b)      mempertahankan  keseimbangan cairan tubuh,
c)      mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan
d)     mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
e)     Mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan tulang.
f)     Produksi hormon yang mengontrol tekanan darah.
g)    Produksi Hormon Erythropoietin yang membantu pembuatan sel darah merah.
 III.            Manifestasi Klinik
  1. Proteinuria
  2. Edema, umumnya terlihat pada kedua kelopak mata dan muka sesudah tidur, sedangkan pada tungkai tampak selama pada posisi berdiri.
  3. Gastrointestinal, diare yang disebabkan oleh edema di mukosa usus
  4. Gangguan pernafasan, karena adanya distensi abdomen dengan atau tanpa pleura efusi.
  5. Gangguan tumbuh kembang.
  6. Gangguan fungsi psikososial, tress pada anak yang sedang berkembang dan keluarganya cemas serta merasa bersalah.

 IV.            Insiden
Insiden kejadian nefrotik sindrom antara laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1

       I.           Patofisiologi
a.Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat pada hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria. Lanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan menurunnya albumin, tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan intravaskuler berpindah ke dalam interstitial. Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang, sehingga menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena hypovolemi
.b.Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan merangsang produksi renin – angiotensin dan peningkatan sekresi anti diuretik hormon (ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian terjadi retensi kalium dan air. Dengan retensi natrium dan air akan menyebabkan edema.
c.Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin dan penurunan onkotik plasma

d.Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipopprtein dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak dalam urin (lipiduria)

e.Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng. (Suriadi dan Rita yuliani, 2001 :217)


    II.           Komplikasi
  • Penurunan volume intravaskuler (Syok Hipovolemik)
  • Kemampuan koagulasi yang berlebihan (Trombosis vena)
  • Kerusakan kulit, infeksi
  • Efek samping steroid yang tidak diinginkan
KEMUNGKINAN DATA FOKUS KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
1. Wawancara
  • Frekuensi BAK anak (jumlah urine bertambah/berkurang )
  • Badan, muka, ekstremitas bengkak (mulai kapan)
  • Nafsu makan (berkurang /anoreksia)
  • Kelelahan saat aktifitas (anak biasanya cepat lelah)
  • Warna urine keruh
2.Pemeriksaan fisik
  • Adanya oedama biasanya  lunak dan cekung bila ditekan (pitting) dan biasanya ditemukan disekitar mata (veri orbital),Pada Ekstremitas, pada muka,abdomen dan daerah genital
  • Berat badan meningkat
  • Nyeri abdomen
  • TTV
3.Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan urin
  • Protein urin meningkat
  • Urinalisis – cost ialindan granular, hematuria
  • Dipstick urin – positfuntuk protein dalamdarah
  • BjUrinmeningkat
b.Pemeriksaandarah
  • Albumin  serum menurun
  • Kolesterol serum meningkat
  • HB, HT, meningkat (Hemokonsentrasi)
  • LED meningkat
  • Elektrolit serum berfariasi dengan keadan penyakit perorangan

II. KEMUNGKINAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Rersiko kelebihan volume cairan berhubungan  derngan penurunan tekanan osmotik koloid plasma ,intravaskuler
2.      Resiko kekurangan volume cairan (Intravaskuler) sehubungan dengan proteinuria dan edema.
3.      Resiko infeksi sehubungan berhubungan dengan therapy imunosupresive dan penurunan kadar imunoglobulin
4.      resiko gangguan integritas kulit brhubungan dengan edema dan penurunan sirkulasi.
5.      Gangguan body image berhubung dengan perubahan fisik.
6.      Kecemasan pada anak atau keluarga berhubung dengan hospitalisasi.

III. HEALTH EDUCATION / RENCANA PULANG / PERAWATAN PULANG
1.      Ajarkanpadaorang tuacaradeteksidinigejalaNefrotikSindrom. Pemeriksaan protein urindengancaramembandingkanurinanaknya (penderita) denganurin normal, bilaberbedadiharapkansegeradatangke RS.
2.      Ajarkanpada orang tuauntukmencatat BB anaknyasetiaphari.
3.      Ajarkandanjelaskanpada orang tuasupaya orang tuamencatatcairan yang masukdan yang keluarsertatujuannya da jelaskantujuandariterapi yang diberikan.
4.      Berikanpenjelasanpada orang tuatentangterapi yang dberikan.
5.      Berikan penjelasan pad orang tua tentang diet yang diberikan.
6.      Ajarkan pada orang tua untuk kontrol secara teratur ke RS.

IV. INTERVENSI KEPERAWATAN
DX 1. Tujuan  : Edema makin lama makin berkurang selama perawatan
           Kriteria    : Inteke output seimbang, pitting edeema  tidak ada, turgor kulit normal tanpa edema, TTV dalam batas normal.
Intervensi           :
a. Observasi edema dan pengurangannya :
  • Timbang BB tiap hari
  • Ukur Intake out put
  • Torgor kulit baik
b. Batasi masukan cairan, sesuaikan dengan urin, out put dan IWLnya
c. Ukur intake out puttiap 24 jam
d. Identifikasi sumber potensial cairan yang lain seperti makanan
e. Jelaskan pada orang tua pentingnya pembatasan cairan dan pengukuran in take dan out put.
f. Berikan terapi sesuai dengan program.

DX 2  Tujuan  : Tidak terjadi hipopolemi selama perawatan
           Kriteria : TTV dalam batas normal, urin out put normal, HT dalam batas normal.
          Intervensi :
a)      Monitor TTV tiap pergantian Shift
b)      Monitor in take Out put dancatat urine out puttiap mg/KgBB/hr
c)      Observasimembranmukosa dan elastisitasturgorkulit.
d)     Observasi CRT tiappergantian shift.
e)      Monitor pemerikasaanlaboratoriumdanelektrolit.

DX 3 Tujuan   : Infeksitidakterjadiselamamasihadafaktorresiko
          Kriteria : TTV dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda infeksi
          Intervensi :
a)      Observasi TTV tiap pergantian shift
b)      Cucu tangan dengan tekhnik yang benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan
c)      Jaga lingkungan dan alat tenun dalam keadaan bersih
d)     Hindari kontak klien dengan orang lain  yang sedang terkena infeksi, terutama infeksi saluran pernafasan (bila ingin kontak dengan klien harus pakai masker)
e)      Jelaskan pada orang tua pentingnya menjaga kebersihan lingkungan
f)       Berikan terapi sesuai dengan program Dokter.
DX 4   Tujuan : Integritas kulit terjaga selama perawatan.
Kriteria tidak terjadi kemerahan.
Intervensi :
a)      Berikan perawatan kulit untuk menjaga keutuhan dan kelenturan kulit
-          bantu kebutuhan hygiennne ( mandi setiap hari )
-          ubah posisi klien tiap 2 jam sesuai dengan kondisi untuk mencegah kerusakan kulit (jika bedrest)
-          keringkan area kulit yang lembab (daerah lipatan)
-          Olesi / gunakan lotion bila kkkulit kering
-          Gerakan bantal atau pengganjal untuk melllindungi daerah yang menonjol
DX 5 Tujuan : Anak dapat beradaptasi selama dalam perawatan
                  Kriteria : Anak mengekpresikan perasaannya, wajah anak ceria
                  Intervensi :
a)      Beri salam dan perkenalkan diri pada anak
b)      Dengarkan kelllluhan anak dengan pennuh empati
c)      Motivasi dan beri dukunnngan emosional kepada anak dan keluarga
d)     Ajarkan dan jelaskan pada anak & keluarga mennngenai koping yanng efektif yang bisa digunakan
e)      Anjurkan pada anak dan keluarga supaya tetap berkreativitas sesuai dennngan kemampuan
DX 6 Tujuan : Cemas berkurang ssetelah diberikan pendidikan kesehatan
                  Kriteria :
-          ortu mennngatakan cemas berkurang dan dapat menerima  keadaan kondisi anaknya
-           ortu tetap rileks dan ikut serta dalam perawatan dan memahami kondisi anaknya.
Intervensi :
a)      dengarkan keluhan orang tua dengan penuh empati.
b)      anjurkan pada orang tua dan anaknya untuk meng ekspresikan rasa takut    dan cemasnya
c)       Berikan penjelasan tentang nefrotik syndrom (pengertian,tanda gejala,cara perawatan,dan pengobatanya)
d)     Libatkan orang tua dlam stiap perawatan(tindakan keperawatan)

Daftar Pustaka
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/27/askep-sindrom-nefrotik/


Oleh : M. Rifan
Tingkat IIA
Kelompok 4 : Ita Nurmalitasari
                      Linda Herlindawati
                      Yayu Kustini
                      Santi Sri Rahayu
                      Freddy Christian OI
                      M. Rifan
                      Agit P Putra
                      Saefull Hidayat

LAPORAN PENDHULUAN ASKEP CYSTITIS


I.            PENGERTIAN

Cystitis merupakan peradangan pada kandung kemih (Medical Surgical Nursing,  2004) Cystitis adalah keadaan klinis akibat berkembang biaknya mikroorganisme yang  menyebabkan inflamasi pada kandung kemih.  Cystitis dibedakan menjadi dua, yaitu :
Tipe infeksi
Disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit
Tipe non infeksi
Disebabkan oleh bahan kimia, radiasi, dan interstisial (tidak diketahui  penyebabnya / idiopatik)
Bakteri cystitis terjadi ketika saluran kemih biasanya steril rendah (uretra dan kandung kemih) yang terinfeksi oleh bakteri dan menjadi iritasi dan meradang. Hal ini sangat umum.  Kondisi ini sering mempengaruhi wanita aktif seksual usia 20 sampai 50 tetapi juga bisa terjadi pada mereka yang tidak aktif secara seksual atau pada anak perempuan muda. orang dewasa yang lebih tua juga berisiko tinggi untuk mengembangkan sistitis, dengan kejadian pada orang tua yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang yang lebih muda.
Cystitis jarang terjadi pada laki-laki. Wanita lebih rentan terhadap perkembangan cystitis karena bakteri yang relatif pendek mereka uretra-tidak harus menempuh perjalanan sejauh untuk memasuki kandung kemih dan karena jarak yang relatif pendek antara pembukaan uretra dan anus. Namun bukan penyakit eksklusif wanita.  Lebih dari 85% kasus cystitis disebabkan oleh''Escherichia coli ("E. coli ")'', bakteri yang ditemukan di saluran pencernaan lebih rendah. Hubungan seksual dapat meningkatkan risiko cystitis karena bakteri dapat diperkenalkan ke dalam kandung kemih melalui uretra selama aktivitas seksual. Setelah bakteri masuk kandung kemih, mereka biasanya dikeluarkan melalui buang air kecil. Ketika bakteri berkembang biak lebih cepat daripada mereka dihapus oleh buang air kecil, hasil infeksi.
Risiko untuk cystitis meliputi obstruksi kandung kemih atau uretra dengan stagnasi resultan dari urin, penyisipan instrumen ke dalam saluran kemih (seperti kateterisasi atau cystoscopy), kehamilan, diabetes, dan sejarah nefropati analgesik atau nefropati refluks.  laki-laki yang lebih tua pada peningkatan risiko untuk mengembangkan sistitis karena pengosongan yang tidak lengkap dari kandung kemih yang terkait dengan kondisi seperti benign prostatic hyperplasia (BPH), prostatitis dan striktur uretra. Juga, kekurangan cairan yang memadai, inkontinensia usus, imobilitas atau penurunan mobilitas dan penempatan di sebuah panti jompo adalah situasi yang menempatkan orang pada peningkatan risiko untuk cystitis.
II.            ANATOMI FISIOOGI
  
 Vesika Urinaria
            1.      Di kontrol oleh refleks
Rangsangan berkemih terjadi bila volume air kemih mencapai 3oo cc dengan respon muskulus detrusor berkontraksi (mengerut) dan muskulus spungter relaksasi (melebar), pusat refleks terdapat di regio sakralis dari sum sum tulang belakang.
           2.      Dikontrol oleh pikiran
Bila pikiran mendapat sters muskulus detrusor relaksasi, spingter berkontraksi, pusat kontrol terdapat di daerah motorik dari korteks cerebri. Pusat kontrol tak bekerja dibawah kemauan kita bila :
         a.       Anestesi umum
         b.      Paralise : hemiplegi, paraplegi
         c.       Terputusnya sumsum belakang di regio sakralis


III.            PATOFISIOLOGI

Agen infeksi kebanyakan disebabkan oleh bakteri E. coly. Tipikal ini berada pada  saluran kencing dari uretra luar sampai ke ginjal melalui penyebaran hematogen,  lymphogen dan eksogen.  Tiga factor yang mempengaruhi terjadinya infeksi adalah :
1. Virulensi dari organisme
2. Ukuran dari jumlah mikroorganisme yang masuk dalam tubuh
3. Keadekuatan dari mekanisme pertahanan tubuh
Terlalu banyaknya bakteri yang menyebabkan infeksi dapat mempengaruhi  pertahanan tubuh alami klien.  Mekanisme pertahanan tubuh merupakan penentu terjadinya infeksi, normalnya  urine dan bakteri tidak dapat menembus dinding mukosa bladder. Lapisan mukosa  bladder tersusun dari sel – sel urotenial yang memproduksi mucin yaitu unsure  yang membantu mempertahankan integritas lapisan bladder dan mencegah  kerusakan serta inflamasi bladder. Mucin juga mencegah bakteri melekat pada sel  urotelial

Selain itu pH urine yang asam dan penurunan / kenaikan cairan dari konstribusi  urine dalam batas tetap, berfungsi untuk mempertahankan integritas mukosa,  beberapa bakteri dapat masuk dan sistem urine akan mengeluarkannya.  Bentuk anatomi saluran kencing, keduanya mencegah dan merupakan konstribusi  yang potensial untuk perkembangan UTI. Urine merupakan produk yang steril,  dihasilkan dari ultrafiltrasi darah pada glumerolus dari nepron ginjal, dan  dianggap sebagai system tubuh yang steril. Tapi uretra merupakan pintu masuk  bagi pathogen yang terkontaminasi. Selain itu pada wanita 1/3 bagian distal uretra  disertai jaringan periuretral dan vestibula vaginalis banyak dihuni bakteri dari usus  karena letak anus tidak jauh dari tempat tersebut. Kolonisasi basi pada wanita di  daerah tersebut diduga karena :
- Perubahan flora normal dari daerah perineum
- Berkurangnya antibody normal
- Bertambahnya daya lekat oeganisme pada sel spitel pada wanita
Cystitis lebih banyak pada wanita dari pada laki – laki, hal ini karena uretra wanita lebih pendek dan lebih dekat dengan anus. Mikroorganisme naik ke bledder pada wktu miksi karena tekanan urine. Dan  selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih setelah mengeluarkan urine.


IV.            GEJALA CYSTITIS
  • Tekanan di panggul yang lebih rendah
  • Nyeri buang air kecil (disuria)
  • Sering buang air kecil (poliuria) atau kebutuhan mendesak untuk buang air kecil (urgensi kemih)
  • Perlu untuk buang air kecil di malam hari (nokturia, mirip dengan kanker prostat atau BPH)
  • Abnormal urin warna (mendung), mirip dengan infeksi saluran kemih
  • Darah dalam urin (hematuria) (mirip dengan kanker kandung kemih)
  • Kotor atau bau urin kuat
V.            PENGOBATAN CYSTITIS
Karena risiko infeksi menyebar ke ginjal dan karena tingkat komplikasi tinggi pada populasi tua dan pada penderita diabetes, pengobatan yang cepat hampir selalu disarankan. Hal ini disarankan untuk menghindari penetrasi vagina sampai infeksi telah dibersihkan.

Obat

Antibiotik digunakan untuk mengendalikan infeksi bakteri. Sangat penting bahwa antibiotik, sekali dimulai, akan selesai. Cystitis juga bisa diobati dengan obat over-the-counter, mana diri pengobatan yang tepat.
Umumnya antibiotik digunakan termasuk:
  • Nitrofurantoin
  • Trimetoprim-sulfametoksazol
  • Amoksisilin
  • Sefalosporin
  • Ciprofloxacin atau levofloksasin
  • Doksisiklin
Pemilihan antibiotik sebaiknya dipandu oleh hasil kultur urin.
Kronis atau ISK berulang harus ditangani secara menyeluruh karena kemungkinan infeksi ginjal (pielonefritis). Antibiotik mengendalikan infeksi bakteri. Mereka mungkin diperlukan untuk jangka waktu yang lama. Profilaksis dosis rendah antibiotik kadang-kadang dianjurkan setelah gejala akut telah mereda.
Pyridium dapat digunakan untuk mengurangi pembakaran dan urgensi yang terkait dengan cystitis.
Ada beberapa bukti bahwa membuat urin lebih asam basa baik (misalnya dengan asam askorbat) atau lebih dapat menenangkan rasa sakit cystitis. jus Cranberry juga mengandung tanin kental, Mannose - D dan proanthocyanidins yang telah ditemukan menghambat aktivitas E. coli dengan mencegah bakteri menempel ke permukaan lapisan mukosa kandung kemih dan usus, membantu bakteri jelas dari saluran kemih.
Tindak lanjut mungkin termasuk budaya urin untuk memastikan bahwa bakteri tidak lagi hadir dalam kandung kemih.
VI.            PENCEGAHAN CYSTITIS
Menjaga daerah genital bersih dan mengingat untuk menghapus dari depan ke belakang dapat mengurangi peluang memperkenalkan bakteri dari daerah dubur ke uretra.
Meningkatkan asupan cairan mungkin mengizinkan sering buang air kecil untuk menyiram bakteri dari kandung kemih. Buang air kecil segera setelah melakukan hubungan seksual dapat membantu menghilangkan bakteri yang mungkin telah diperkenalkan selama hubungan seksual. Menahan diri dari buang air kecil untuk waktu yang lama memungkinkan bakteri waktu untuk berkembang biak, begitu sering buang air kecil dapat mengurangi risiko cystitis pada mereka yang rentan terhadap infeksi saluran kemih.
Minum jus cranberry mencegah jenis tertentu dari bakteri yang melekat pada dinding kandung kemih dan dapat mengurangi kemungkinan infeksi.
Tablet ekstrak cranberry juga telah ditemukan efektif dalam mencegah cystitis dan merupakan alternatif yang mungkin bagi mereka yang tidak suka rasa jus cranberry.
Cauterisation pada lapisan kandung kemih melalui cystoscopy memberikan bantuan jangka panjang (kadang-kadang beberapa tahun) dari kondisi ini.
VII.            PENGKAJIAN

1. IDENTITAS
· Umur : terjadi pada semua umur
· Jenis kelamin : lebih sering terjadi pada wanita dan meningkatnya insidennya  sesuai pertambahan usia dan aktivitas seksual
· Tempat tinggal : ada atau tidaknya factor predisposisi
2. KELUHAN UTAMA
· Rasa sakit atau panas di uretra sewaktu kencing
· Urine sedikit
· Rasa tidak enak di daerah supra pubik
3. RIWAYAT PENYAKIT
· Riwayat ISK sebelumnya
· Obstruksi pada saluran kemih
· Masalah kesehatan lain, misalnya DM, Riwayat seksual
4. PEMERIKSAAN FISIK
· Tanda Tanda Vital : sepsis
· Infeksi abdomen bagian bawah dan palpasi urine bledder : pengosongan tidak
maksimal
· Inflamasi dan lesi di uretra meatus dan vagina introitus
· Kaji perkemihan : dorongan, frekuensi, disuria, bau urine yang menyengat, nyeri pada supra pubik
5. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL
· Sering terjadi pada usia remaja dan dawasa muda à activitas seksual timbul  perasaan malu dan bersalah
· Perasaan takut akan kekambuhan, dimana menyebabkan penolakan terhadap  aktivitas sexual
· Nyeri dan kelelahan yang berkenaan dengan infeksi dapat berpengaruh terhadap
penampilan kerja dan aktivitas kehidupan sehari – hari
6. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Urinalis urin tengah
Ketika infeksi terjadi, memperlihatkan bakteriuria, WBC (White Blood Cell),  RBC (Red Blood Cell) dan endapan sel darah putih dengan keteribatan ginjal  Tes sensitifitas à banyak mikroorganisme sensitive terhadap antibiotic dan  antiseptic berhubungan dengan infeksi berulang
· Pengkajian radiographic
Cystitis ditegakkan berdasarkan history, pemeriksaan medis dan laborat, jika  terdapat retensi urine dan obstruksi aliran urine dilakukan IPV (Identivikasi  perubahan dan abnormalitas structural)
· Culture akan mengidentifikasi bakteri penyebab
· Sinar X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur  nyata

VIII.            . DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Rasa nyeri berhubungan dengan infeksi kandung kemih
Kriteria hasil : Klien mengatakan rasa nyeri berkurang
Tujuan : Tidak ada nyeri dan rasa terbakar saat berkemih
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau :
Haluan urine terhadap perubahan  warna,bau dan pola berkemih. Masukan dan haluan setiap 8 jam  Hasil urinalis ulang Untuk mengidentifikasi indikasi, kemajuan atau penyimpanan dari  hasil yang diharapkan
2. Konsul dokter bila :
Sebelumnya kuning gading-urine  kuning,jingga gelap , berkabut  atau keruh  Pola berkemih berubah,sebagai  contoh rasa panas seperti terbakar  saat kencing , rasa terdesak saat  kencing
Nyeri menetap atau bertambah  sakit
Temuan-temuan ini dapat member  tanda kerusakan jaringan lanjut dan  perlu pemeriksaan lebih luas,seperti  pemeriksaan radiology jika  sebelumnya tidak dilakukan
3. Berikan analgesic sesuai  kebutuhan dan evaluasi  keberhasilannya  Analgesik memblok lintasan nyeri, sehingga mengurangi nyeri
4. Jika frekuensi menjadi masalah, jamin akses kekamar mandi, pispot dibawah tempat tidur atau
bedpan.Anjurkan pasien untuk berkemih kapan saja ada keinginan Berkemih yang sering mengurangi statis urine pada kandung kemih dan menghindari pertumbuhan bakteri
5. Berikan antibiotic.Buat berbagai variasi sedian minuman, termasuk air segar disamping
tempat tidur.Pemberian air sampai 2400 ml/hari Akibat dari peningkatan haluan urina memudahkan sering berkemih dan membantu membilas saluran
kemih

2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya factor resiko nosokomial
Kriteria hasil : Klien dapat berkemih dengan urine jernih tanpa
ketidaknyamanan,urinalisis dalam batas normal,kultur urine menunjukkan tidak ada  bakteri
Tujuan : Tidak ada infeksi pada kandung kemih
INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan perawatan perineal dengan  air sabun setiap shift.Jika pasien  inkontinensia,cuci perineal sesegera  mungkin  Untuk mencegah kontaminasi uretra
2. Jika dipasang kateter indwelling,  berikan perawatan kateter 2 kali perhari (merupakan bagian dari waktu mandi  pagi dan pada waktu akan tidur) dan  setelah buang air besar  Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih dan  naik kesaluran perkemihan
3. Ikuti kewaspadaan umum (cuci tangan sebelum dan sesudah kontak Untuk mencegah kontaminasi silang  langsung,pemakaian sarung tangan),bila kontak dengan cairan tubuh atau darah yang mungkin terjadi (memberikan perawatan perineal,pengosongan kantung drainase urina, penampungan specimen urine).Pertahanan teknik aseptic bila melakukan kateterisasi, bila
mengambil contoh urine dari kateter indwelling
4. Ubah posisi pasien setiap 2 jam dan anjurkan masukan cairan sekurang- kurangnya 2400 ml/hari(kecuali kontra indikasi).Bantu melakukan ambulasi sesuai kebutuhan Untuk mencegah statis urine
5. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urina Asam urna menghalangi tumbuhnya kuman

3. Resiko tinggi terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostic, pengobatan dan perawatan di rumah
Kriteria hasil : klien manyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostic, rencana pengobatan, tindakan perawatan diri preventif
Tujuan : pasien mampu mendemonstrasikan keinginan untuk mentaati rencana
terapiutik
INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan iformasi tentang :
a. Sumber infeksi
b. Tindakan untuk mencegah penyebaran atau kekambuhan
c. Jelaskan pemberian antibiotic yang meliputi nama, tujuan, dosis, jadwal dan catat efek sampingnya
d. Pemeriksaan diagnostic, termasuk :
· Tujuan
· Gambaran singkat
· Persiapan yang di butuhkan sebelum pemeriksaan
· Perawatan sesudah pemeriksaan Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapiutik
2. Pastikan klien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatanlanut dan instruksi tertulis untuk tindakan pencegahan Instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan
3. Instruksi klien untuk menggunakan seluruh antibiotic yang diresepkan. Minum sebanyak 8 gelas/hari Klien seringmenghentikan obat mereka, jika tanda dan gejala mereda. Cairan menolong membilas ginjal

 C. PENATALAKSANAAN

· Mencegah adanya kekambuhan infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah volume 1.
Jakarta : EGC.
Ignatavicius, donna, dkk. 1991. Medical Surgical Nursing. United State of America.
Soeparman, dkk. 2001. Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi 3. Jakarta : Balai penerbit
FKUI.

Oleh : Freddy Christian Octavianus Ismail
Tingkat : IIA
Kelompok :     Ita Nurmalitasari
                        Yayu Kustini
                        Linda Herlindawati
Santi Sri Rahayu
Freddy Christian O I
M. Rifan
Syaefull H
Agit P