Kamis, 07 April 2011

TUGAS ke 10 "GAGAL GINJAL KRONIK"

GAGAL GINJAL KRONIS

DI SUSUN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATA AJARAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH





Freddy Christian Oktavianus Ismail
05200ID09012
2A






AKADEMI KEPERAWATAN PEMDA GARUT
2010-2011







BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic non-communicable diseases) terutama penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah menggantikan penyakit menular (communicable diseases) sebagai masalah kesehatan masyarakat utama. Gangguan fungsi ginjal dapat menggambarkan kondisi  sistem vaskuler sehingga dapat membantu upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum pasien mengalami komplikasi yang lebih parah seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan penyakit pembuluh darah perifer.
Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal yang memerlukan terapi pengganti yang membutuhkan biaya yang mahal. Penyakit ginjal kronik biasanya desertai berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit saluran napas, penyakit saluran cerna, kelainan di tulang dan otot serta anemia.
Selama ini, pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan diagnosis dan pengobatan terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan penyebab penyakit ginjal kronik serta dialisis atau transplantasi ginjal jika sudah terjadi gagal ginjal. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa komplikasi penyakit ginjal kronik, tidak bergantung pada etiologi, dapat dicegah atau dihambat jika dilakukan penanganan secara dini. Oleh karena itu, upaya yang harus dilaksanakan adalah diagnosis dini dan pencegahan yang efektif terhadap penyakit ginjal kronik, dan hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor risiko untuk penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan. 
1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang diangkat dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana batasan dan klasifikasi penyakit ginjal kronik?
2.      Bagaimana diagnosa dini terhadap penyakit ginjal  kronik?
3.      Bagaimana upaya pengelolaan dan pencegahan yang tepat terhadap penyakit  ginjal kronik?




1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui batasan dan klasifikasi penyakit  ginjal kronik.
2.      Mengetahui diagnosa  dini terhadap penyakit ginjal kronik.
3.      Mengetahui upaya pengelolaan dan pencegahan yang tepat terhadap penyakit ginjal kronik.

1.4. Manfaat
Penulisan ini diharapkan dapat memberi informasi tentang upaya pengelolaan dan pencegahan penyakit gagal ginjal kronik beserta komplikasinya berdasarkan batasan, klasifikasi, dan diagnosa dini terhadap penyakit gagal ginjal kronik. BAB II






BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi
Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel. Gangguan fungsi ginjal dalaah penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan ringan, sedang, dan berat. Azotemia adalah peningkatan BUN dan ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat. Uremia adalah sindrom akibat gagal ginjal yang berat. Gagal ginjal terminal adalah ketidakmampuan renal berfungsi dengan adekuat untuk keperluan tubuh (harus dibantu atau transplantasi).



2.2 Etiologi
Umumnya gagal ginjal kronik disebabkan penyakit ginjal intrinsic difus dan menahun. Tetapi hamper semua nefropati bilateral dan progresif akan berekhir dengan gagal ginjal kronik. Umumnya penyakit diluar ginjal, missal nefropati obstruktif dapat menyebabkan kelainan ginjal intrinsic dan berakhir dengan gagal ginjal kronik.
Glomerulonefritis hipertensi essensial dan pielonefritis merupakan penyebab paling sering dari gagal ginjal kronik kira-kira 60%. Gagal ginjal kronik yang berhubungan dengan penyakit ginjal polikistik dan nefropati obstruktif hanya 15 – 20 %. Glomerulonefritis kronik merupakan penyakit parenkim ginjal progresif dan difus, seringkali berakhir dengan gagal ginjal kronik. Laki-laki lebih sering dari wanita, umur 20 – 40 tahun. Sebagian besar pasien relatif muda dan merupakan calon utama untuk transplantasi ginjal. Glomerulonefritis mungkin berhubungan dengan penyakit-penyakit system (Glomerulonefritis sekunder) seperti Lupus Eritomatosus Sitemik, Poliarthritis Nodosa, Granulomatosus Wagener. Glomerulonefritis (Glomerulopati) yang berhubungan dengan diabetes melitus (Glomerulosklerosis) tidak jarang dijumpai dan dapat berakhir dengan gagal ginjal kronik. Glomerulonefritis yang berhubungan dengan amiloidosis sering dijumpai pada pasien-pasien dengan penyakit menahun sperti tuberkolosis, lepra, osteomielitis, dan arthritis rheumatoid, dan myeloma. Penyakit ginjal hipertensif (arteriolar nefrosklerosis) merupakan salah satu penyebab gagal ginjal kronik. Insiden hipertensi essensial berat yang berekhir dengan gagal ginjal kronik kurang dari 10 %.
Kira-kira 10 -15% pasien-pasien dengan gagal ginjal kronik disebabkan penyakit ginjal congenital seperti Sindrom Alport, penyakit Fabbry, Sindrom Nefrotik Kongenital, penyakit ginjal polikistik, dan amiloidosis. Pada orang dewasa, gagal ginjal kronik yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih dan ginjal (Pielonefritis) tipe uncomplicated jarang dijumpai, kecuali tuberculosis, abses multiple, nekrosis papilla renalis yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat.
Seperti diketahui,nefritis interstisial menunjukkan kelainan histopatologi berupa fibrosis dan reaksi inflamasi atau radang dari jaringan interstisial dengan etiologi yang banyak. Kadang dijumpai juga kelainan-kelainan mengenai glomerulus dan pembuluh darah, vaskuler. Nefropati asam urat menempati urutan pertama dari etiolgi nefrotis interstisial.

2.3 Manifestasi Klinis

Gejala-gejala akibat gagal ginjal kronik
Umum
Fatig, malaise, gagal tumbuh, debil
Kulit
Pucat, mudah lecet, rapuh, leukonikia
Kepala dan leher
Fetor uremik, lidah kering dan berselaput
Mata
Fundus hipertensif, mata merah
Kardiovaskuler
Hipertensi, kelebihan cairan, gagal jantung, perikarditis uremik, penyakit vascular
Pernapasan
Hiperventilasi asidosis, edema paru, egusi pleura
Gastrointestinal
Anoreksia, nausea, gastritis, ulkus peptikum, colitis uremik, diare yang disebabkan oleh antibiotic
Kemih
Nokturia, poliuria, haus, proteinuria, penyakit ginjal yang mendasarinya
Reproduksi
Penurunan libido, impotensi, amenore, infertilitas, ginekomastia, galaktore
Saraf
Letargi, malaise, anoreksia, tremor, mengantuk, kebingungan, flap, mioklonus, kejang, koma
Tulang
Hiperparatiroidisme, defisiensi vitamin D
Sendi
Gout, pseudogout, kalsifikasi ekstra tulang
Hematologi
Anemia, defisiensi imun, mudah mengalami perdarahan
Endokrin
Multipel
Farmakologi
Obat-obat yang diekskresi oleh ginjal


2.4  Batasan dan Klasifikasi Penyakit  Ginjal Kronik 
             Pada tahun 2002, National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQI) telah menyusun  pedoman praktis penatalaksanaan klinik tentang evaluasi, klasifikasi, dan stratifikasi penyakit ginjal kronik.  Penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patalogis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60ml/menit/1,73m2, seperti yang terlihat di bawah ini:
a. Batasan Penyakit Ginjal Kronik
1. kerusakan ginjal > 3 bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus berdasarkan:
·         kelainan patalogik
·          petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria atau  kelainan pada pemeriksaan pencitraan
2.  Laju filtrasi glomerulus < 60 ml/menit/1,73m2 selama > 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal
            Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah, seperti terlihat pada bagian b.  Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium.
Stadium 1 adalah kerusakan ginjal dengan fungsi ginjal yang masih normal
Stadium 2 kerusakan ginjal dengan penurunan fungsi  ginjal yang ringan
Stadium 3 kerusakan ginjal dengan penurunan sedang  fungsi ginjal
Stadium 4 kerusakan ginjal dengan penurunan berat fungsi ginjal
Stadium 5 adalah gagal ginjal 
b. Laju filtrasi glomerulus dan stadium penyakit ginjal kronik
Stadium  Fungsi ginjal Laju filtrasi glomerulus (ml/menit/1,73m2)
Risiko meningkat Normal  > 90 (ada faktor risiko)
Stadium 1 Normal/meningkat > 90 (ada kerusakan ginjal, proteinuria)
Stadium 2 Penurunan ringan 60-89
Stadium 3 Penurunan sedang 30-59
Stadium 4 Penurunan berat 15-29
Stadium 5 Gagal ginjal < 15


2.5  Diagnosis Dini Penyakit Ginjal Kronik
Penyakit ginjal kronik dapat dikategorikan menurut etiologi dan kelainan patalogik seperti terlihat pada tabel 3. untuk memastikan diagnosa tidak jarang diperlukan biopsi ginjal yang sangat jarang menimbulkan komplikasi. Biopsi ginjal hanya dilakukan pada pasien tertentu yang diagnosis pastinya hanya dapat ditegakkan dengan biopsi ginjal yang akan mengubah pengobatan atau prognosis. Pada sebagian besar pasien, diagnosis ditegakkan berdasar pengkajian klinik yang lengkap dengan memperlihatkan faktor etiologi. Klasifikasi diagnosis penyakit ginjal kronik Penyakit  Tipe utama contoh :
·         Penyakit ginjal diabetik Diabetes tipe 1 dan 2
·         Penyakit ginjal non diabetik Penyakit glomeruler (penyakit otoimun, infeksi sistemik, neoplasia)
·         Penyakit tubulointerstisial (infeksi saluran kemih, batu, obstruksi, toksisitas obat)
·         Penyakit vaskular (penyakit pembuluh darah besar, hipertensi, mikroangiopati)
·         Penyakit ginjal transplan Rejeksi kronik, toksisitas obat, penyakit rekuren, glomerulopati transplan
            Perjalanan klinik penyakit penyakit ginjal kronik biasanya perlahan dan tidak dirasakan oleh pasien. Oleh karena itu, pengkajian klinik sangat bergantung pada hasil pemeriksaan penunjang, meski  anamnesis yang teliti sangat membantu dalam menegakkan diagnosis yang tepat. Nilai laju filtrasi glomerulus merupakan parameter terbaik untuk ukuran fungsi ginjal. Pada semua pasien penyakit ginjal kronik, sebaiknya dilakukan pemeriksaan penunjang seperti yang terlihat di bawah ini.
Pemeriksaan penunjang penyakit ginjal kronik
·         Kadar kreatinin serum untuk menghitung laju filtrasi glomerulus
·         Rasio protein atau albumin terhadap kreatinin dalam contoh urin pertama pada pagi hari atau sewaktu
·         Pemeriksaan sedimen urun atau dipstick untuk melihat adanya sel darah merah dan sel darah putih
·         Pemerikasaan pencitraan ginjal, biasanya ultrasonografi
·         Kadar elektrolit serum (natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat)
 
2.6 Pengelolaan dan Pencegahan
Pengkajian klinik menentukan jenis penyakit ginjal, adanya penyakit penyerta, derajat penurunan fungsi ginjal, komplikasi akibat penurunan fungsi ginjal, faktor risiko untuk penurunan fungsi ginjal, dan faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular. Pengelolaan meliputi:
a.       terapi penyakit ginjal
b.       pengobatan penyakit penyerta
c.       penghambatan penurunan fungsi ginjal
d.      pencegahan dan pengobatan penyakit kardiovaskular
e.       pencegahan dan pengobatan komplikasi akibat penurunan fungsi ginjal
f.       terapi pengganti ginjal dengan dialisis atau transplantasi jika timbul gejala dan tanda uremia

Stadium dini penyakit ginjal kronik dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium. Pengukuran kadar kreatinin serum dilanjutkan dengan penghitungan laju filtrasi glomerulus dapat mengidentifikasi pasien yang mengalami penurunan fungsi ginjal. Pemeriksaan ekskresi albumin dalam urindapat mengidentifikasi pada sebagian pasien adanya kerusakan ginjal.
Sebagian besar individu dengan stadium dini penyakit ginjal kronik terutama di negara berkembang tidak terdiagnosis. Deteksi dini  kerusakan ginjal sangat penting untuk dapat memberikan pengobatan segera, sebelum terjadi kerusakan dan komplikasi lebih lanjut. Pemeriksaan skrinning pada individu asimtomatik yang menyandang faktor risiko dapat membantu deteksi dini penyakit ginjal kronik.
Pemeriksaan skrinning seperti pemeriksaan kadar kreatinin serum dan ekskresi albumin dalam urin dianjurkan untuk individu yang menyandang faktor risiko penyakit ginjal kronik, yaitu pada:
a.       pasien dengan diebetes melitus atau hioertensi
b.       individu dengan obesitas atau perokok
c.       individu berumur lebih dari 50 tahun
d.      individu dengan riwayat penyakit diabetes melitus,  hipertensi, dan penyakit ginjal dalam keluarga.
Upaya pencegahan terhadap penyakit ginjal kronik sebaiknya sudah mulai dilakukan pada stadium dini penyakit ginjal kronik. Berbagai upaya pencegahan yang telah terbukti bermanfaat dalam mencegah penyakit ginjal dan kardiovaskular adalah:
a.       pengobatan hipertensi yaitu makin rendah tekanan darah makin kecil risiko penurunan fungsi ginjal
b.      pengendalian gula darah, lemak darah, dan anemia
c.       penghentian merokok
d.      peningkatan aktivitas fisik
e.       pengendalian berat badan f.  obat penghambat sistem renin angiotensin seperti penghambat ACE (angiotensin converting enzyme) dan penyekat reseptor angiotensin telah terbukti dapat mencegah dan menghambat proteinuria dan penurunan fungsi ginjal.





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penulisan ini dapat disimpulkan bahwa:
1.      Penyakit ginjal kronik dapat menggambarkan kondisi  sistem vaskular sehingga dapat membantu upaya pencegahan penyakit lebih dini dan komplikasinya.
2.      Pemeriksaan penunjang penyakit ginjal kronik penting untuk memastikan diagnosis penyakit ginjal dan derajat penurunan fungsi ginjal, dalam hal ini nilai laju filtrasi glomerulus yang diukur dengan kadar kreatinin serum merupakan parameter terbaik ukuran fungsi ginjal.
3.      Dalam melakukan pengelolaan dan pencegahan penyakit ginjal kronik secara cepat dan tepat perlu diperhatikan adanya faktor risiko penyakit ginjal kronik.




DAFTAR PUSTAKA

Nahas AM. Chronic Kidney Disease: The Global Challenge. Lancet 2005, 365:331-340.
Health Equity- The Bellagio 2004 Declaration. Kidney Int Suppl 2005.
Arif Masjoer 2003 Kapita Selekta Krdokteran Jakarta Media Aesculapius


Oleh : Freddy Christian O I
Tingkat : IIA

TUGAS KMB ke 9 "TUMOR PADA GINJAL"

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam karena atas izin dan kehendakNya jualah makalah sederhana ini dapat kami rampungkan tepat pada waktunya.
Penulisan dan pembuatan Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah (KMB) III. Adapun yang kami bahas dalam makalah sederhana ini mengenai “Kangker / Tumor Pada Ginjal”.
Dalam penulisan Makalah ini kami menemui berbagai hambatan yang dikarenakan terbatasnya Ilmu Pengetahuan kami mengenai hal yang berkenan dengan penulisan makalah ini. Oleh karena itu sudah sepatutnya kami berterima kasih kepada dosen pembimbing kami yang telah memberikan limpahan ilmu yang insya Allah dapat berguna kepada kami.
Kami menyadari akan kemampuan kami yang masih amatir. Dalam makalah ini kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan juga kritik membangun agar lebih maju di masa yang akan datang.
Harap kami, Laporan ini dapat menjadi track record dan menjadi referensi bagi kami dalam mengarungi masa depan. Kami juga berharap agar Makalah ini dapat berguna bagi orang lain yang membacanya.


Garut, 05 April 2011

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Seperti organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa mengalami kanker.
Pada dewasa, jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adenokarsinoma renalis, hipernefroma), yang berasal dari sel-sel yang melapisi tubulus renalis.
          Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam saluran kemih tumbuh dan membelah secara wajar. Tetapi kadang sel-sel mulai membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru meskipun tubuh tidak memerlukannya.
Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa yang terdiri jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor.


B. Rumusan Permasalahan
Adapun permasalahan yang kami angkat dalam makalah ini adalah Pengertian, Gejala Serta Pengobatan Kangker / Tumor Paga Ginjal.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan kami membuat makalah ini adalah untuk mengetahui Apa Pengertian, Gejala Serta Bagaimana Pengobatan Kangker / Tumor Paga Ginjal.

D. Sistematika penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Rumusan Permasalahan
C. Tujuan penulisan
D. Sistematika penulisan
E. Metode Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Anatomi dan Fisiologi Ginjal
B. Pengertian Kanker / Tumor Pada Ginjal
C. Faktor Risiko Pada Kanker Ginjal
D. Gejala-Gejala Kanker Ginjal
E. Diagnosis Kanker Ginjal
F. Pengobatan
G. Prognosis

BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

E. Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan menggunakan berbagai sumber buku dan sumber dari internet sehingga dapat memudahkan dalam penyusunan makalah ini.



BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Anatomi dan Fisiologi Ginjal
 


          Ginjal adalah sepasang organ pada setiap sisi dari tulang belakang (spine) didalam perut bagian bawah. Setiap ginjal adalah kira-kira seukuran kepalan tangan. Melekat pada puncak dari setiap ginjal adalah suatu kelenjar adrenal. Suatu massa dari jaringan yang berlemak dan suatu lapisan luar dari jaringan yang berserat (Gerota's fascia) menyelubungi ginjal-ginjal dan kelenjar-kelenjar adrenal.
           Ginjal adalah bagian dari saluran air seni (kencing). Mereka membuat urin dengan mengeluarkan pembuangan dan kelebihan air dari darah. Urin berkumpul didalam suatu ruang berongga (renal pelvis) ditengah-tengah dari setiap ginjal. Ia mengalir dari renal pelvis kedalam kantong kemih melalui suatu tabung yang disebut suatu ureter. Urin meninggalkan tubuh melalui tabung lain (urethra).
          Ginjal juga membuat senyawa-senyawa yang membantu mengontrol tekanan darah dan produksi dari sel-sel darah merah.
B. Pengertian Kanker / Tumor Pada Ginjal

            Kanker mulai pada sel-sel, blok-blok bangunan yang membentuk jaringan-jaringan. Jaringan-jaringan membentuk organ-organ tubuh.
            Secara normal, sel-sel tumbuh dan membelah untuk membentuk sel-sel baru ketika tubuh memerlukan mereka. Ketika sel-sel tumbuh menua, mereka mati, dan sel-sel baru mengambil tempat mereka.
           Adakalanya proses yang teratur ini berjalan salah. Sel-sel baru terbentuk ketika tubuh tidak memerlukan mereka, dan sel-sel tua tidak mati ketika mereka seharusnya mati. Sel-sel ekstra ini dapat membentuk suatu massa dari jaringan yang disebut suatu pertumbuhan atau tumor.
          Tumor-tumor dapat jinak atau ganas:
1.       Tumor-tumor jinak adalah bukan kanker:
    • Tumor-tumor jinak adalah jarang mengancam nyawa.
    • Biasanya, tumor-tumor jinak dapat diangkat/dikeluarkan, dan mereka jarang tumbuh kembali.
    • Sel-sel dari tumor-tumor jinak tidak menyerang jaringan-jaringan disekitar mereka atau menyebar ke bagian-bagian lain tubuh.
    •  
  1. Tumor-tumor ganas adalah kanker:
    • Tumor-tumor ganas umumnya adalah lebih serius daripada tumor-tumor jinak. Mereka mungkin adalah mengancam nyawa.
    • Tumor-tumor ganas seringkali dapat diangkat/dikeluarkan, namun mereka dapat tumbuh kebali.
    • Sel-sel dari tumor-tumor ganas dapat menyerang dan merusak jaringan-jaringan dan organ-organ yang berdekatan. Juga, sel-sel kanker dapat menyebar dari suatu tumor ganas dan memasuki aliran darah atau sistim lymphatic (getah bening). Itu adalah bagaimana sel-sel kanker menyebar dari kanker asal (tumor primer) untuk membentuk tumor-tumor baru pada organ-organ lain. Penyebaran dari kanker disebut metastasis.
            Beberapa tipe-tipe kanker dapat mulai di ginjal. Artikel ini adalah tentang kanker  sel ginjal, tipe yang paling umum dari kanker ginjal pada orang-orang dewasa. Tipe ini adakalanya disebut renal adenocarcinoma atau hypernephroma. Tipe yang lain dari kanker, transitional cell carcinoma, mempengaruhi renal pelvis. Ia adalah serupa kanker kantong kemih dan seringkali dirawat seperti kanker kantong kemih. Wilms tumor adalah tipe yang paling umum dari kanker ginjal masa kanak-kanak. Ia berbeda dari kanker ginjal orang dewasa dan memerlukan perawatan yang berbeda.
            Ketika kanker ginjal menyebar keluar dari ginjal, sel-sel kanker seringkali ditemukan di simpul-simpul getah bening yang berdekatan. Kanker ginjal juga mungkin menyebar ke paru-paru, tulang-tulang, atau hati. Dan ia mungkin menyebar dari satu ginjal ke ginjal lainnya.
           Ketika kanker menyebar (metastasizes) dari tempat asalnya ke bagian lain dari tubuh, tumor baru mempunyai jenis yang sama dari sel-sel abnormal dan nama yang sama seperti tumor primer. Contohnya, jika kanker ginjal menyebar ke paru-paru, sel-sel kanker di paru-paru sebenarnya adalah sel-sel kanker ginjal. Penyakitnya adalah kanker ginjal yang metastatis, bukan kanker paru. Ia dirawat sebagai kanker ginjal, bukan kanker paru. Dokter-dokter adakalanya menyebut tumor baru sebagai penyakit metastatis atau penyakit "jauh".
C. Faktor Risiko Pada Kanker Ginjal
                Kanker ginjal berkembang paling sering pada orang-orang yang berumur 40 tahun keatas, namun tidak seorang pun mengetahui penyebab-penyebab yang pasti dari penyakit ini. Dokter-dokter jarang dapat menerangkan mengapa seseorang mengembangkan kanker ginjal dan yang lainnya tidak. Bagaimanapun, adalah jelas bahwa kanker ginjal adalah tidak menular. Tidak seorang pun dapat "menangkap" penyakit ini dari orang lain.
               Penelitian telah menunjukan bahwa orang-orang dengan faktor-faktor risiko tertentu adalah lebih mungkin daripada yang lain-lainnya mengembangkan kanker ginjal. Suatu faktor risiko adalah apa saja yang meningkatkan kesempatan seseorang mengembangkan suatu penyakit.
             Studi-studi telah menemukan faktor-faktor risiko yang berikut untuk kanker ginjal:
  1. Merokok: Merokok sigaret adalah suatu faktor risiko utama. Perokok-perokok sigaret adalah dua kali lebih mungkin daripada bukan perokok untuk mengembangkan kanker ginjal. Merokok cerutu juga mungkin meningkatkan risiko penyakit ini.
  2. Kegemukan: Orang-orang yang kegemukan mempunyai suatu risiko yang meningkat dari kanker ginjal.
  3. Tekanan darah tinggi: Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko kanker ginjal.
  4. Dialysis jangka panjang: Dialysis adalah suatu perawatan untuk orang-orang yang ginjal-ginjalnya tidak bekerja dengan baik. Ia mengeluarkan pembuangan-pembuangan dari darah. Berada pada dialysis untuk waktu bertahun-tahun adalah suatu faktor risiko untuk kanker ginjal.
  5. Von Hippel-Lindau (VHL) syndrome: VHL adalah suatu penyakit yang jarang yang beredar pada beberapa keluarga-keluarga. Ia disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam gen VHL. Suatu gen VHL yang abnormal meningkatkan risiko kanker ginjal. Ia juga dapat menyebabkan kista-kista (cysts) atau tumor-tumor di mata-mata, otak, dan bagian-bagian lain tubuh. Anggota-anggota keluarga dari mereka yang dengan sindrom ini dapat memdapatkan suatu tes untuk memeriksa kemungkinan gen VHL yang abnormal. Untuk orang-orang dengan gen VHL abnormal, dokter-dokter mungkin menyarankan cara-cara untuk memperbaiki pendeteksian kanker ginjal dan penyakit-penyakit lain sebelum gejala-gejala berkembang.
  6. Pekerjaan: Some people have a higher risk of getting kidney cancer because they come in contact with certain chemicals or substances in their workplace. Coke oven workers in the iron and steel industry are at risk. Workers exposed to asbestos or cadmium also may be at risk.
  7. Jenis kelamin: Laki-laki adalah lebih mungkin daripada wanita-wanita didiagnosis dengan kanker ginjal. Setiap tahun di Amerika, kira-kira 20,000 laki-laki dan 12,000 wanita-wanita belajar bahwa mereka mempunyai kanker ginjal.
             Kebanyakan orang-orang yang mempunyai faktor-faktor risiko ini tidak mendapat kanker ginjal. Pada sisi lain, kebanyakan orang-orang yang mendapat penyakit ini tidak mempunyai faktor-faktor risiko yang diketahui. Orang-orang yang berpikir mereka mungkin berisiko harus mendiskusikan kekhwatiran ini dengan dokter mereka. Dokter mungkin mampu untuk menyarankan cara-cara untuk mengurangi risiko dan dapat merencanakan suatu jadwal yang tepat untuk checkup-checkup.
D. Gejala-Gejala Kanker Ginjal
            Gejala-gejala umum dari kanker ginjal termasuk:
  1. Darah dalam urin (membuat urin sedikit merah karatan atau merah dalam)
  2. Nyeri pada sisi yang tidak hilang
  3. Suatu gumpalan atau massa pada sisi atau diperut
  4. Kehilangan berat badan
  5. Demam
  6. Merasakan sangat lelah atau mempunyai suatu perasaan keseluruhan dari kesehatan yang jelek
           Paling sering, gejala-gejala ini tidak berarti kanker. Suatu infeksi, suatu kista, atau persoalan lain juga dapat menyebabkan gejala-gejala yang sama. Seseorang dengan yang mana saja dari gejala-gejala ini harus mengunjungi seorang dokter sehingga persoalan apa saja dapat didiagnosis dan dirawat sedini mungkin.
E. Diagnosis Kanker Ginjal
             Jika seorang pasien mempunyai gejala-gejala yang menyarankan kanker ginjal, dokter mungkin melaksanakan satu atau lebih dari prosedur-prosedur berikut:
  1. Pemeriksaan fisik: Dokter memeriksa tanda-tanda kesehatan umum dan menguji untuk demam dan tekanan darah tinggi. Dokter juga merasakan (meraba) perut dan pinggang untuk tumor-tumor.
  2. Tes-tes urin: Urin diperiksa untuk darah dan tanda-tanda lain dari penyakit.
  3. Tes-tes darah: Laboratorium memeriksa darah untuk melihat berapa baik ginjal-ginjal bekerja. Lab mungkin memeriksa tingkat dari beberapa senyawa-senyawa, seperti creatinine. Suatu tingkat creatinine yang tinggi mungkin berarti ginjal-ginjal tidak mengerjakan pekerjaan mereka.
  4. Intravenous pyelogram (IVP): Dokter menyuntikan zat warna (dye) kedalam suatu vena di lengan. Zat warna berjalan melalui tubuh dan mengumpul di ginjal-ginjal. Zat warna membuat mereka terlihat pada x-rays. Suatu rentetan dari x-rays kemudian menjejaki zat warna ketika ia bergerak melalui ginjal-ginjal ke ureter-ureter dan kantong kemih. X-rays dapat menunjukan suatu tumor ginjal atau persoalan-persoalan lain.
  5. CT scan (CAT scan): Suatu mesin x-ray yang dihubungkan ke sebuah komputer mengambil serentetan gambar-gambar yang detil dari ginjal-ginjal. Pasien mungkin menerima suatu suntikan dari zat warna sehingga ginjal-ginjal terlihat dengan jelas didalam gambar-gambar. Suatu CT scan dapat menunjukan suatu tumor ginjal.
  6. Tes Ultrasound: Alat ultrasound menggunakan gelombang-gelombang suara yang orang-orang tidak dapat dengar. Gelombang-gelombag memantul balik dari ginjal-ginjal, dan sebuah komputer menggunakan gema-gema untuk menciptakan suatu gambar yang disebut suatu sonogram. Suatu tumor atau kista yang solid nampak pada suatu sonogram.
  7. Biopsi: Pada beberapa kasus-kasus, dokter mungkin melakukan suatu biopsi. Suatu biopsi adalah pengangkatan dari jaringan untuk mencari sel-sel kanker. Dokter memasukan suatu jarum yang tipis melalui kulit kedalam ginjal untuk mengangkat suatu jumlah yang kecil dari jaringan. Dokter mungkin menggunakan ultrasound atau x-rays untuk memandu jarum. Seorang ahli patologi menggunakan sebuah mikroskop untuk mencari sel-sel kanker dalam jaringan.
             Operasi: Pada kebanyakan kasus-kasus, berdasarkan pada hasil-hasil dari CT scan, ultrasound, dan x-rays, dokter mempunyai cukup informasi untuk merekomendasikan operasi untuk mengangkat sebagian atau seluruh dari ginjal. Seorang ahli patologi membuat diagnosis akhir dengan memeriksa jaringan dibawah sebuah mikroskop.
F. Pengobatan

            Saat ini pengobatan standar untuk kanker yang masih terbatas di ginjal adalah pembedahan untuk mengangkat seluruh ginjal (nefrektomi simplek atau nefrotomi radikal).
Pada nefrektomi radikal, dilakukan pengangkatan ginjal dan kelanjar adrenal diatasnya, jaringan di sekitar ginjal serta beberapa kelenjar getah bening, Pada nefrektomi simplek, dilakukan pengangkatan ginjal saja.

          Pada prosedur embolisasi arteri, disuntikkan suatu zat khusus ke dalam pembuluh darah yang menuju ke ginjal. Dengan menyumbat pembuluh ini, tumor akan kekurangan oksigen dan zat gizi lainnya.

          Embolisasi arteri bisa digunakan sebelum pembedahan atau untuk mengurangi nyeri dan perdarahan jika pembedahan tidak mungkin dilakukan.
Embolisasi arteri bisa menyebabkan mual, muntah atau nyeri yang bersifat sementara.

          Terapi penyinaran biasanya digunakan untuk mengurangi nyeri pada kanker yang telah menyebar ke tulang.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah kulit di tempat penyinaran menjadi merah atau gatal, mual dan muntah.

          Imunoterapi menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. Diberikan suatu zat yang dikenal sebagai pengubah respon biologis, misalnya interferon atau interleukin-2.
Secara normal, zat tersebut dihasilkan oleh tubuh dan juga dibuat di laboratorium untuk membantu mengobati penyakit.Efek samping yang timbul berupa menggigil, demam, mual, muntah dan penurunan nafsu makan.

G. Prognosis

          Jika kanker belum menyebar, maka pengangkatan ginjal yang terkena dan pengangkatan kelenjar getah bening akan memberikan peluang untuk sembuh.

          Jika tumor telah menyusup ke dalam vena renalis dan bahkan telah mencapai vena kava, tetapi belum menyebar sisi tubuh yang jauh, maka pembedahan masih bisa memberikan harapan kesembuhan. Tetapi kanker ginjal cenderung menyebar dengan cepat, terutama ke paru-paru.

         Jika kanker telah menyebar ke tempat yang jauh, maka prognosisnya jelek karena tidak dapat diobati dengan penyinaran, kemoterapi maupun hormon.




BAB III
PENUTUP




A. KESIMPULAN

            Seperti organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa mengalami kanker.
Pada dewasa, jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adenokarsinoma renalis, hipernefroma), yang berasal dari sel-sel yang melapisi tubulus renalis.

           Dalam keadaan normal, sel-sel di dalam saluran kemih tumbuh dan membelah secara wajar. Tetapi kadang sel-sel mulai membelah diluar kendali dan menghasilkan sel-sel baru meskipun tubuh tidak memerlukannya.
Hal ini akan menyebabkan terbentuknya suatu massa yang terdiri jaringan berlebihan, yang dikenal sebagai tumor.


B. SARAN

          Adapun saran yang dapat diberikan adalah :

1. Kepada masyarakat umumnya dan kepada penderita Kanker / Tumor Pada Ginjal khususnya agar selalu melakukan antenatal secara teratur agar mudah dideteksi kelainan kelainan yang terjadi misalnya saja seperti kelainan letak pada janin agar tidak terlambat dalam pertolongan
.
2. Kepada tenaga kesehatan agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasiennya




DAFTAR PUSTAKA

http//Wikipedia.com
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1360&bih=632&tbm=isch&sa=1&q=ginjal&aq=f&aqi=&aql=&oq=


Oleh : Agit Pratama Putra
TIngkat IIA